Langsung ke konten
Balik

Pendidikan sebagai Warisan Pikiran: Mengenang Guru-Guru SMA Muhammadiyah 18 Cidodol

ENRead English version

Ketika kita masih menjadi murid, sering kali kita mengira sekolah adalah tempat untuk mengejar nilai, lulus ujian, lalu mendapatkan ijazah. Baru bertahun-tahun setelah meninggalkannya, kita menyadari bahwa warisan terbesar dari pendidikan bukanlah selembar kertas yang disimpan di lemari, melainkan cara berpikir yang tertanam dalam diri kita.

Saya lulus dari SMA Muhammadiyah 18 Cidodol, Jakarta Selatan, pada tahun 2009. Lebih dari lima belas tahun telah berlalu sejak saat itu. Banyak hal berubah. Dunia berubah. Teknologi berubah. Kehidupan membawa saya ke berbagai pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan ketika masih duduk di bangku sekolah. Namun ada sesuatu yang tetap tinggal: pelajaran dari para guru yang membantu membentuk cara saya memandang agama, masyarakat, dan kehidupan.

Wisuda SMA Muhammadiyah 18 Jakarta tahun 2009

Para guru dan staf SMA Muhammadiyah 18 Jakarta saat pelepasan dan wisuda kelas XII, tahun pelajaran 2008/2009.

Filsuf Yunani, Socrates, pernah mengatakan bahwa pendidikan bukanlah mengisi wadah yang kosong, melainkan menyalakan api. Saya baru memahami makna kalimat itu setelah dewasa. Guru-guru yang paling berpengaruh dalam hidup saya bukanlah mereka yang membuat saya menghafal paling banyak, melainkan mereka yang menyalakan cara berpikir yang terus hidup hingga hari ini.

Salah satu guru yang memberikan pengaruh besar adalah Pak Drs. Ahmad Jahid, guru agama Islam. Dari beliau, saya tidak hanya belajar tentang agama sebagai kumpulan aturan atau kewajiban yang harus dijalankan. Beliau mengajarkan bahwa agama juga berbicara tentang kebijaksanaan, kemanusiaan, dan kemampuan untuk hidup berdampingan dengan orang lain.

Di usia remaja, ketika seseorang mudah melihat dunia secara hitam dan putih, beliau menunjukkan bahwa kehidupan jauh lebih kompleks daripada itu. Bahwa menjadi seorang Muslim tidak harus membuat seseorang kehilangan keterbukaan berpikir. Bahwa keyakinan tidak harus melahirkan ketakutan terhadap perbedaan. Dan bahwa ilmu pengetahuan serta agama bukanlah dua hal yang saling bertentangan.

Hingga hari ini, ketika saya bertemu orang-orang dari berbagai latar belakang, keyakinan, dan pandangan hidup, saya sering menyadari bahwa sebagian cara saya memandang mereka berasal dari pelajaran yang saya terima di kelas agama bertahun-tahun yang lalu.

Guru berikutnya adalah Ibu Hj. Munawaroh, guru sejarah. Secara formal, beliau mengajarkan sejarah. Namun dalam praktiknya, beliau mengajarkan sesuatu yang jauh lebih luas daripada peristiwa-peristiwa masa lalu.

Dari beliau saya belajar bahwa sejarah bukan sekadar cerita tentang apa yang pernah terjadi, melainkan pelajaran tentang bagaimana manusia mengambil keputusan, membangun peradaban, menghadapi konflik, dan menciptakan perubahan. Yang lebih penting lagi, beliau selalu mendorong murid-muridnya untuk aktif berorganisasi dan mengambil peran.

Beliau mengajarkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berlangsung di dalam kelas. Seorang pelajar juga harus belajar memimpin, bekerja sama, menyampaikan pendapat, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.

Saat itu saya mungkin belum memahami sepenuhnya arti dari dorongan tersebut. Namun ketika memasuki dunia kerja, bisnis, dan teknologi, saya menyadari bahwa banyak kemampuan yang saya gunakan setiap hari justru lahir dari pengalaman berorganisasi yang dahulu didorong oleh beliau.

Kemudian ada Pak Mahfudz, sosok yang membuka wawasan saya terhadap dunia organisasi dan pergerakan di luar lingkungan sekolah.

Dari beliau saya belajar bahwa masyarakat adalah ruang belajar yang jauh lebih luas daripada ruang kelas. Organisasi bukan hanya tempat berkumpul atau menjalankan kegiatan. Organisasi adalah tempat seseorang belajar memahami manusia, menghadapi perbedaan pendapat, membangun kepercayaan, dan memperjuangkan gagasan.

Melalui berbagai aktivitas yang beliau kenalkan, saya mulai memahami bahwa perubahan tidak selalu lahir dari jabatan atau kekuasaan. Sering kali perubahan justru dimulai dari sekelompok orang yang memiliki kepedulian dan keberanian untuk bertindak.

Saya dan teman-teman saat wisuda SMA Muhammadiyah 18 Jakarta tahun 2009

Saya dan teman-teman saat pelepasan dan wisuda kelas XII SMA Muhammadiyah 18 Jakarta, tahun pelajaran 2008/2009.

Ketika dewasa dan menjalankan berbagai aktivitas bisnis serta teknologi, saya sering menemukan kembali pelajaran-pelajaran yang dahulu saya peroleh dari pengalaman berorganisasi. Kemampuan membangun tim, mendengarkan orang lain, menyelesaikan konflik, dan menjaga komitmen ternyata tidak muncul begitu saja. Semua itu berakar dari pengalaman yang mulai terbentuk sejak masa sekolah.

Melihat ke belakang, saya semakin percaya bahwa pengaruh seorang guru tidak dapat diukur dari nilai ujian atau prestasi akademik semata. Pengaruh mereka sering kali baru terlihat bertahun-tahun kemudian, ketika murid-muridnya menjalani kehidupan masing-masing.

Pak Drs. Ahmad Jahid membantu membentuk cara pandang saya terhadap Islam yang lebih moderat dan terbuka. Ibu Hj. Munawaroh menanamkan semangat kepemimpinan dan organisasi. Pak Mahfudz memperkenalkan saya pada dunia pergerakan masyarakat dan pentingnya keterlibatan sosial.

Mungkin bagi mereka, semua itu hanyalah bagian dari tugas sebagai seorang pendidik. Namun bagi seorang murid, sebuah gagasan yang ditanamkan pada waktu yang tepat dapat mengubah arah hidup seseorang.

Hari ini saya memahami bahwa sebagian dari diri kita sesungguhnya adalah kumpulan pengaruh dari orang-orang yang pernah mengajar, membimbing, dan mempercayai kita. Karena itu, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan. Pendidikan adalah pewarisan cara berpikir dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dan jika ada warisan yang masih saya bawa dari SMA Muhammadiyah 18 Cidodol hingga hari ini, warisan itu bukanlah hafalan, nilai rapor, atau ijazah. Warisan itu adalah cara memandang dunia.

Untuk Pak Drs. Ahmad Jahid, Ibu Hj. Munawaroh, dan Pak Mahfudz, terima kasih. Waktu mungkin telah berlalu, tetapi pelajaran yang Bapak dan Ibu tanamkan masih hidup dalam setiap keputusan, prinsip, dan cara berpikir yang saya pegang hingga hari ini.

Barangkali itulah bentuk keberhasilan seorang guru yang sesungguhnya: ketika pelajarannya tetap hidup jauh setelah muridnya meninggalkan ruang kelas.


Bagikan tulisan ini:

Sebelumnya
Mengapa Saya Membuat Kasirco Tanpa Biaya Langganan
Selanjutnya
MiMo vs DeepSeek: Berapa Biaya Token AI Sebenarnya